Budaya Hidup Rukun di Sekolah

Budaya Hidup Rukun di Sekolah

Budaya Hidup Rukun di Sekolah

Dunia pendidikan kami akhir-akhir ini lumayan dikejutkan dengan mencuatnya berbagai masalah kekerasan di lingkungan sekolah. Kekerasan yang berlangsung antar siswa, guru pada siswa, atau sebaliknya siswa pada guru. Kekerasan baik yang berbentuk fisik (menyubit, memukul, menjambak, menyenggol dengan sengaja, menjegal) maupun berbentuk verbal (memanggil dengan nama julukan, menyebar gosip, mengintimidasi secara emosional, mengisolasi, mengeluarkan dari kelompoknya, dan tindakkan secara seksual seperti memberi komentar, jalankan kontak-kontak pada bagian tertentu, menarik tali BH, mengintip rok), dan lain sebagainya.

Budaya Hidup Rukun di Sekolah

Penyebab kekerasan fisik dari siswa bisa kami dilihat dua faktor.

Pertama faktor internal siswa sendiri misalnya: pelaku jalankan kelakuan selanjutnya karena menjadi jemu dengan rutinitas. Mereka mendambakan melacak sesuatu yang baru dan menemukan kepuasaan. Ketika orang lain menjadi takut atau mendapat celaka dari kelakuan pelaku tindak kekerasaan maka pelaku bakal merasakan suatu kepuasaan. Mereka seolah bakal mendapat penghargaan dari para yunior berbentuk penghormatan.

Kedua adalah faktor eksternal dari siswa. Hal ini apabila masalah latar belakang keluarga. Mereka kurang beroleh perhatian ataupun pengawasan yang diberikan orang tua. Untuk melampiaskan kekecewaan pada orang tuanya, mereka jalankan kelakuan yang merugikan siswa lain. Sasaran empuk mereka adalah para yuniornya. Sering kami memahami atau tidak kami memahami sebagai pendidik tindakan kami memicu munculnya kekerasaan fisik maupun verbal di lingkungan sekolah. Ketika kami tengah tersedia masalah teristimewa kerap ikut terbawa ke didalam kelas. Beberapa siswa bertingkahlaku yang kurang berkenan memicu kami mudah emosi.

Pemukulan pada siswa kerap kami lontarkan atau meninggalkan kelas dengan kemarahan. Perbuatan selanjutnya sebenarnya kurang pas dilaksanakan sebagai seorang pendidik. Kita bisa menegur siswa yang memicu kekacauan atau jika wajib mereka kami suruh nampak bukan kami yang keluar. Rasa tidak senang pada seorang siswa idealnya tidak terus menerus didalam diri kita. Kita menjadi tidak senang dengan tidak benar satu siswa senantiasa terbawa maka siswa selanjutnya menyadari bakal dirugikan.

Mekanisme sekolah yang kurang baik termasuk bisa memicu munculnya kekerasaan fisik di lingkungan sekolah. Hal ini apabila kami jumpai didalam kesibukan MOS. Kegiatan MOS ini kerap disalah tafsirkan menjadi kesibukan perploncoan. Senior atau kakak kelas kerap menyuruh yuniornya untuk jalankan tindakan yang aneh-aneh dan senior mencari-cari kesalahan yunior. Tindakan selanjutnya hendaknya betul dihilangkan karena udah tidak cocok ulang dengan obyek MOS. MOS pada prinsipnya mempunyai obyek untuk memperkenalkan dan memberikan bekal kepada para siswa baru didalam memasuki lingkungan sekolah yang baru.

Namun kerap kami jumpai para senior jalankan tindakan itu didiamkan dengan alasan untuk melatih mental dan menumbuhkan kepribadian siswa baru. Beberapa sekolah kerap mengadakan kesibukan ekstrakurikuler katanya untuk melatih kedisiplinan, mental dan menumbuhkan yakin diri. Sebut saja apabila baris berbaris. Mereka ikuti latihan baris-berbaris dengan dibimbing kakak kelas. Hal ini menyadari sekali mudah untuk memunculnya suatu tindak kekerasaan. Para senior bakal membentak-bentak para yunior. Mereka tidak menutup mungkin bakal mencari-cari kesalahan yunior dan hukuman bakal diberikan kepadanya. Hal ini bakal berlangsung terus menerus saat ini menjadi yunior tahun depan menjadi senior tentu bakal memberlakukan kepada yuniornya kelak. Merlihat perihal selanjutnya sekolah wajib lebih bijaksanan dan memberikan penekanan yang lebih mengenai kesibukan selanjutnya supaya tidak tidak benar tafsir dari para siswa.

Untuk menjauhkan tindak kekerasan fisik di lingkungan sekolah adalah dengan penanaman budaya saling menghormati sesama warga sekolah. Siswa dengan siswa, guru dengan siswa atau sebaliknya. Untuk penanaman budaya saling menghormati sesama warga sekolah bisa kami jalankan dengan lebih dari satu cara.

Pertama, Budaya senioritas wajib dihilangkan didalam lingkungan sekolah. Mereka yang menjadi senior bakal memperlakukan yunior semaunya. Perlakuan para senior pada yunior ini sebagai usaha supaya dihargai oleh para yunior.

Harapannya para yunior takut dan menghormati para senior atau menghormati para senior. Budaya senioritas dan yunioritas jika senantiasa kami pertahankan hanya bakal mengakibatkan konflik. Konflik ini kelanjutannya memicu munculnya kekerasan fisik. Orang dihargai karena kepribadian yang ditampilkan sebenarnya pantas untuk dihargai bukan karena hasil menghimpit pihak lain. Upaya untuk menyingkirkan budaya ini apabila sekolah memberikan tindakkan tegas jika menjumpai tindakan siswa yang beranggap dirinya senior.

Namun perihal ini hendaknya sebagai sanksi paling akhir yang dikeluarkan sekolah jika sekolah sebenarnya udah tidak bisa membina mereka lagi. Hilangnya budaya senioritas dikalangan siswa didalam perihal ini siswa kelas I, II maupun III punya kedudukan yang sama. Mereka sebagai siswa suatu sekolah punya tugas dan tanggungjawab yang sama.

Mereka bebas bergaul dengan adik kelas maupun kakak kelas. Hal ini tunjukkan adanya saling menghormati sesama siswa di sekolah. Kakak maupun adik hanya untuk membedakan tingkatan atau jenjang mereka di sekolah.

Kedua, sekolah wajib senantiasa memelihara pertalian yang serasi pada siswa dengan sesama siswa maupun dengan guru. Untuk memelihara pertalian yang serasi ini dilaksanakan dengan menanamkan budaya saling menghormati antar sesama warga sekolah. Siswa wajib beranggap siswa yang lain sama dan tidak membeda-bedakan. Hal ini tercermin didalam pergaulan, mereka tidak membeda-bedakan yang kaya miskin, cantik buruk dan sebagainya.

Mereka seluruh adalah rekan seperjuangan didalam mencapai cita-cita. Seorang guru termasuk wajib bisa memelihara keharmonisan dengan para siswa. Siswa yang satu dengan yang lain wajib kami pandang sama. Salah satu usaha yang bisa kami jalankan adalah dengan menjauhkan budaya ngecing (merasa tidak senang dengan tidak benar satu siswa). Hal ini jika tersedia didalam diri seorang guru udah barang tentu bakal merugikan siswa tersebut. Kita didalam memberikan nilai bakal dipengaruhi dengan perasaan kami supaya siswa selanjutnya menjadi dirugikan.

Ketiga, Penegakan kediplinan sekolah yang tegas. Kedisiplinan siswa wajib sungguh-sungguh ditegakkan. Siswa yang melanggar ketentuan sekolah maka ia wajib ditindak tegas. Misalnya dengan penerapan sistim poin di sekolah. Sekolah didalam perihal ini wali kelas wajib menindak anak buahnya yang melanggar ketentuan sekolah. Siswa yang membolos wajib diberi poin. Hal ini bakal memicu para siswa jera untuk jalankan kelakuan yang melanggar ketentuan sekolah.

Di samping poin yang kami memberikan kepada siswa yang melanggar sekolah termasuk bisa memberikan sanksi yang lain. Namun sanksi yang lain ini hendaknya bukan yang mengarah kepada kekerasaan. Sanksi selanjutnya idealnya yang bisa memicu siswa berkembang dan mendidik. Misalnya siswa diminta memicu refleksi dengan ketentuan dua atau tiga lembar. Siswa bakal mengupayakan menyesali perbuatannya dan ia bakal berlatih memicu suatu karangan.

Tamparan ataupun tindak kekerasaan lain yang kami memberikan hanya bakal tambah meruncingkan masalah. Siswa bakal hormat di depan kami dan di belakang pandang remeh kita. Sebagai usaha untuk menegakkan kedisiplinan para siswa hendaknya guru termasuk wajib bisa mengetahui kepribadian siswa. Ketika guru dihadapkan kepada siswa yang memiliki masalah kami tidak bisa langsung menjatuhkan sanksi. Kita wajib mengetahui siswa lebih-lebih dahulu dengan pendekatan pribadi. Setelah kami menyadari latar belakang siswa dan latar belakang persoalan kami baru bisa mengambil keputusan dan diikuti dengan bantuan jalur keluar. Hal ini sebagai usaha untuk menegakkan kedisiplinan siswa.

Keempat, Penanaman nilai-nilai kristiani di sekolah. Banyak perihal yang bisa dilaksanakan untuk menanamkan nilai-nilai kristiani ini. Misalnya pembinaan iman yang teratur dan berkala. Secara teratur apabila dengan pendalaman kitab suci tiap tiap minggunya diselipkan didalam jam-jam pelajaran yang ada. Secara berkala apabila kelas I tersedia program rekoleksi, kelas II dengan gladi rohani dan kelas III dengan retret. Bagi sekolah-sekolah Katholik perihal ini mudah dilaksanakan dan bisa menjadi program yang rutin. ruangguru.co.id

Kelima, sekolah wajib selektif didalam mengadakan kesibukan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler yang memudahkan memicu tindak kekerasaan wajib didampingi pembimbing dengan sungguh-sungguh apabila wajib dipangkas atau dihilangkan saja. Sekolah bisa lebih seletif didalam memilih kesibukan ekstrakurikuler yang bisa diikuti para siswa. Kegiatan selanjutnya bisa yang berbentuk penyaluran bakat (olahraga, musik), memberikan bekal hidup (ketrampilan), menanamkan nilai-nilai hidup( Palang Merah Remaja, Pencinta Alam) maupun penajaman berfikir ( debat, penalaran). Menghindarkan budaya senioritas, memelihara pertalian yang serasi sesama warga sekolah, penegakaan tekun yang tegas, penanaman nilai-nilai kristiani dan selektif didalam memilih kesibukan ekstrakurikuler merupakan lebih dari satu solusi yang diusulkan penulis supaya iklim yang kondusif dan saling menghormati sesama warga sekolah tercapai. Hal ini bakal memicu sekolah terhindar dari tindak kekerasaan fisik maupun tindak kekerasaan verbal.