Wagub Uu: Jasa Kyai Besar Dalam Membangun Karakter Bangsa

Wagub Uu Jasa Kyai Besar Dalam Membangun Karakter Bangsa

Wagub Uu: Jasa Kyai Besar Dalam Membangun Karakter Bangsa

Wagub Uu Jasa Kyai Besar Dalam Membangun Karakter Bangsa
Wagub Uu Jasa Kyai Besar Dalam Membangun Karakter Bangsa

Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum menyebut, Kemerdekaan bangsa Indonesia

tak bisa lepas dari peran dan perjuangan para Kyai. Mereka sangat berjasa dalam membangun karakter bangsa.

Apalagi para kyai, itu berjasa terhadap bangsa dan negara dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya,” kata Uu, Sabtu (20/10) kemarin.

Menurutnya, pesan yang disampaikan seorang pendiri bangsa WR Supratman dengan kalimat ‘Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya’, itu menunjukkan bahwa sebelum membangun badan, maka harus diawali dengan pembangunan jiwa.

“Jadi sebelum membangun badan, bangun dulu jiwanya. Dan yang membangun

jiwa adalah para Kyai,” tutur Uu.

Di sisi lain, kata Ia, kepedulian pemerintah terhadap jasa para Kyai kurang. Seakan jasa-jasa mereka dilupakan dan sirna di mata masyarakat. Pemerintah lebih memfokuskan diri membangun fisik, infrastruktur dan sarana lainnya. Sementara, terhadap peningkatan kualitas jiwa (keimanan dan ketakwaan) kurang dianggap penting.

“Kenapa kalau jembatan dibangun, yang lain dibangun, sementara untuk peningkatan keimanan dan ketakwaan tidak ada kode rekening,” kata Uu.

Momentum Hari Santri Nasional (HSN), hendaknya dijadikan langkah awal untuk memperbaiki arah pembangunan bangsa.

Tidak hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga diimbangi dengan pembangunan karakter bangsa.

“Oleh karena itu saya berharap, dimasa yang akan datang kami perhatikan. Dan yang buat saya sakit hati, pesantren disebut pendidikan non formal. Itu yang membuat saya sakit. Kenapa SD, SMP yang disebut pendidikan formal, sementara pesantren tidak? padahal pesantren itu memiliki silabus, memiliki kurikulum, memiliki cara dikdaktik cara mengajar. Pelajarannya juga jelas, dari tingkatan-tingkatan. Ada pelajaran ibtida’, ada tsanawi, ada ma’had ali, ada tes setiap enam bulan dan yang lainnya. Tapi kenapa disebut pendidikan non formal?,” pungkasnya

 

Baca Juga :