Kehidupan Masyarakat pada Masa Islam

Kehidupan Masyarakat pada Masa Islam

Islam masuk dan berkembang di Indonesia mulanya melalui pertalian perdagangan. Hal itu kemudian berkembang melalui perkawinan, pendidikan, politik, dan kebudayaan. Setelah berkembang agama Islam, kemudian memberikan efek pada pola hidup masyarakat Indonesia.

1. Masuknya Islam Ke Indonesia
Sejarah mencatat bahwa kaum pedagang memegang manfaat penting dalam persebaran agama dan kebudayaan Islam. Letak Indonesia yang strategis menyebabkan timbulnya bandar-bandar perdagangan yang ikut membantu mempercepat persebaran itu. Kaum pedagang mengenalkan agama dan budaya Islam kepada para pedagang lain maupun kepada masyarakat setempat. Maka, mulailah tersedia masyarakat Indonesia yang memeluk agama Islam. Lama kelamaan penganut agama Islam tambah bertambah. Bahkan kemudian berkembang perkampungan pada pedagang Islam di daerah pesisir. Penduduk setempat yang sudah memeluk agama Islam kemudian menyebabkan Islam kepada sesama pedagang, juga kepada sanak keluarganya. Akhirnya, Islam terasa berkembang di masyarakat Indonesia.

Agama dan kebudayaan Islam dibawa dan dikembangkan di Indonesia oleh para pedagang Islam dari Gujarat, Arab, dan Persia pada abad ke-7 M. Pendapat para pakar itu mendapat dukungan oleh teori-teori sebagai berikut;

a. Teori Gujarat
Teori ini menyebutkan perihal manfaat orang-orang Gujarat dalam menyebarkan agama dan kebudayaan Islam di Indonesia. Hal ini berdasarkan kesamaan bentuk batu nisan Sultan Malik as-Saleh yang wafat pada 1297 M di Pasai dan batu nisan Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada 1419 M di Gresik bersama dengan batu nisan yang berasal dari Gujarat, India. Salah seorang pendukung Teori Gujarat ialah W. F. Stutterheim.

b. Teori Persia
Teori ini dikemukakan oleh Husein Djajadiningrat ini menyebutkan perihal kesamaan kebudayaan yang berkembang di masyarakat Indonesia dan kebudayaan yang berkembang di Persia. Misal; peringatan Asyura (10 Muharam) sebagai peringatan mazhab Syah atas wafatnya Husein, cucu Nabi Muhammad SAW.

c. Teori Makkah
Teori ini menyebutkan perihal manfaat orang-orang Arab dalam menyebarkan agama dan kebudayaan Islam di Indonesia. Hal ini berdasarkan bukti bahwa bangsa Indonesia sejak awal sudah menganut mazhab Syafi’i yang sama bersama dengan mazhab yang dianut di Makkah. Salah seorang tokoh yang menganut Teori Makkah adalah Hamka.

2. Persebaran Islam di Indonesia
Sekitar abad ke 7 Masehi, agama Islam terasa masuk ke kawasan Indonesia. Daerah yang pertama kali terima ajaran Islam yakni Samudra Pasai yang terletak di Pesisir Aceh Utara. Selain Samudra Pasai, Malaka pun jadi salah satu daerah yang banyak dikunjungi para pedagang muslim. Malaka punyai letak yang cukup stategis dalam pertalian service dan Pedagangan Asia Timur, Asia Selatan dan Asia Barat.

Islam tambah berkembang ke berbagai daerah di Indonesia. Islam terasa tersebar ke lokasi Kalimantan Bara, Sumatera Selatan dan Pulau Jawa. sekitar tahun 1511, Malaka jatuh ke tangan Portugis yang menyebabkan para pedagang lebih memilih berubah ke Aceh. Dari lokasi Aceh, mereka melakukan berbagai kesibukan perdagangan di selama Pantai Barat Sumatera dan konsisten melalui Selat Sunda hingga di Pantai Utara Pulau Jawa. Hingga abad ke 18, ajaran Islam sudah tambah berkembang dan tersebar luas di berbagai kawasan di Indonesia, tetapi belum seluruh lokasi Indonesia yang terima ajaran Islam.

Hal-hal yang ikut membantu sistem penyebaran Islam di antaranya melalui perdagangan, pernikahan, pendidikan, politik, dan kebudayaan.
Melalui perdagangan, persebaran berjalan dikarenakan terdapatnya pertalian antara pedagang-pedagang Islam bersama dengan masyarakat Indonesia. Atau sebaliknya, pedagang-pedagang Indonesia yang melakukan kunjungan ke Arab.
Melalui pernikahan. Para pedagang Islam kebanyakan merupakan orang-orang kaya dan terpandang bersama dengan budi bahasa yang santun dan jujur. Oleh dikarenakan itu, masyarakat setempat tertarik untuk menikahkan putri-putrinya bersama dengan para pedagang muslim itu. Atau sebaliknya, para pedagang muslim yang menikahkan kerabat perempuannya bersama dengan penguasa lokal. Karena pernikahan itu, maka terbentuklah keluarga Islam yang kemudian berkembang jadi perkampungan muslim.
Penyebaran melalui langkah pendidikan langsung, kebanyakan dilaksanakan oleh para ulama yang singgah ke Indonesia untuk menyebarkan Islam. Para ulama itu kemudian mendirikan pesantren atau sekolah. Keberadaan pesantren dan sekolah pada selanjutnya mengarahkan masyarakat di kawasan itu untuk memeluk Islam.
Proses penyebaran Islam secara politis, kebanyakan melalui para penguasa. Karena mereka membawa efek besar dalam masyarakat, maka keberadaannya sangat disegani oleh rakyat. Hal ini berakibat tambah luas efek politiknya, tambah luas pula penyebaran efek Islam.
Penyebaran Islam melalui langkah kebudayaan, dilaksanakan oleh para tokoh dan seniman bersama dengan menyisipkan ajaran dan nilai-nilai Islam dalam setiap pertunjukan kesenian. Dengan demikian Islam lebih gampang diterima, sekaligus memperkaya budaya masyarakat setempat.

3. Pengaruh Islam pada Masyarakat Indonesia
Masuknya kebudayaan Islam punyai efek besar pada kehidupan masyarakat. Indonesia. Perpaduan kebudayaan lokal dan Islam menghasilkan akulturasi dalam berbagai bidang kehidupan di Indonesia. Pengaruh kebudayaan Islam pada masyarakat tercermin pada berbagai bidang, antara lain sebagai berikut;

a. Bidang Politik
Dalam bidang politik masuknya budaya Islam, kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha terasa runtuh dan peranannya terasa digantikan oleh kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam. Dalam sistem pemerintahan rajanya bergelar Sultan atau Sunan. Nama raja juga disesuaikan bersama dengan nama Islam. Dalam ajaran Islam menyebutkan bahwa manusia merupakan wakil Tuhan di dunia. saat menjalankan roda pemerintahan, sultan didampingi oleh ulama.

b. Bidang Sosial
Dalam ajaran agama Islam tidak menerapkan sistem kasta serti agama Hindu. Hal ini menyebakan efek Islam berkembang pesat dan mayoritas masyarakat Indonesia memeluk agama Islam. Begitu juga bersama dengan sistem penanggalan, pada mulanya masyarakat Indonesia mengenal kalender Saka yang merupakan kalender Hindu. Dalam kalender Saka terkandung nama hari pasaran seperti pahing, pon, wage, kliwon, dan legi.

Seiring pertumbuhan Islam, Sultan Agung dari kerajaan Mataram menciptakan Kalender Jawa. Kalender itu memakai perhitungan seperti Hijriah (Islam). Sultan Agung mengganti nama bulan seperti Muharram diganti bersama dengan Syuro, Ramadan diganti bersama dengan Pasa. Nama-nama hari selamanya memakai hari-hari cocok bersama dengan bahasa Arab dan hari pasaran pada Kalender Saka juga dipergunakan.

c. Bidang Pendidikan
Pada awal-awal masuknya Islam di Indonesia, mulanya pendidikan agama dilaksanakan di Masjid, Langgar, atau Surau. Pelajaran yang diberikan adalah membaca Al-Qur’an, tata langkah peribadatan, akhlak, dan keimanan. Seiring berjalannya waktu, kemudian nampak pesantren yang merupakan pengadopsian dari agama Hindu. Pesantren adalah sebuah asrama tradisional pendidikan Islam. Siswa tinggal bersama dengan untuk belajar ilmu keagamaan di bawah bimbingan guru atau sering dikenal bersama dengan sebutan Kiai. Siswa diajarkan mendalami ilmu agama Islam cocok bersama dengan syariat-syariat agama Islam. Pesantren dalam bahasa Jawa punyai makna seseorang yang ikuti kesibukan gurunya.

d. Bidang Agama
Pada jaman Islam, beberapa besar masyarakat di Indonesia menganut agama Islam. Meskipun demikian, tetap terkandung masyarakat yang menganut agama Hindu-Buddha, atau menganut kepercayaan roh halus. Hingga pas ini, sebagaian besar masyarakat di Indonesia menganut agama Islam.

e. Bidang Kebudayaan
Adat istiadat dan tradisi yang banyak berkembang dari budaya Islam sanggup berupa ucapan salam, acara tahlilan, syukuran, yasinan dan lain-lain. Dalam perihal kesenian, banyak dijumpai seni musik seperti kasidah, rebana, marawis, barzanji dan sholawat. Kita juga melihat efek di bidang seni arsitektur rumah peribadatan atau masjid di Indonesia yang banyak terpengaruh oleh arsitektur masjid yang tersedia di lokasi Timur Tengah.

4. Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia
Kerajaan-kerajaan Islam dikenal bersama dengan sebutan kesultanan dan rajanya bergelar sultan. Kesultanan Islam di Indonesia terasa berperan pada abad ke 13. Beberapa kesultanan Islam bersama dengan tokoh-tokohnya adalah sebagai berikut.

a. Kesultanan Samudra Pasai
Kesultanan Samudra Pasai terletak di pantai timur Aceh (sekitar Lhokseumawe) dan berdiri pada abad XIII. Hal ini dibuktikan bersama dengan penemuan batu nisan Sultan Malik as-Saleh yang merupakan sultan pertama di Samudra Pasai yang berangka tahun 1297. Sultan Malik as-Saleh punyai nama asli Marah Silu. Beliau menikah bersama dengan Langgang Sari, putri Sultan Perlak. Akibat pernikahan itu, kekuasaan Samudra Pasai tambah meluas hingga ke pedalaman. Samudra Pasai menjalin pertalian bersama dengan Delhi di India. Hal ini dibuktikan bersama dengan terdapatnya utusan Sultan Delhi, yakni Ibnu Batula yang singgah ke Samudra Pasai hingga dua kali.

Dalam bidang keagamaan, Ibnu Batuta menyebutkan bahwa Kesultanan Samudra Pasai dikunjungi oleh ulama dari Persia, Syiria dan Isfahan. Ia juga menyebutkan bahwa sultan Samudra Pasai sangat taat beragama dan menganut mazhab Syafi’i. Selain itu, Marcopolo menyebutkan bahwa masyarakat di daerah Perlak sebagaian besar sudah beragama Islam. Kesultanan Samudra Pasai membawa peran penting dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Hal ini tampak pada upaya Samudra Pasai dalam menyebarkan Islam ke Malaka dan Patani.

Pada tahun 1521 M, Kesultanan Samudra Pasai dikuasai oleh Portugis, kemudian pada tahun 1524 M dikuasai oleh Sultan Ali Mughayat Syah dari Kesultanan Aceh Darussalam. Sejak itu Samudra Pasai berada di bawah kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam.

b. Kesultanan Aceh Darussalam
Kesultanan Aceh ini didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada 1513. Ia berkuasa dari tahun 1513 hingga 1528. Pengganti Ali Mughayat Syah adalah Sultan Alaudin Riayat Syah yang mengadakan tiga kali penyerangan kerajaan Portugis di Malaka pada tahun 1528, 1560, dan 1568. Namun, penyerangan itu mengalami kegagalan. Sultan Aceh yang dulu membawa Aceh pada puncak kejayaan adalah Sultan Iskandar Muda yang memerintah pada tahun (1607-1636).

Berikut ini beberapa tindakan yang dilaksanakan Iskandar Muda untuk memperkuat kerajaan Aceh.
Memperluas daerah kekuasaan ke Semenanjung Malaka bersama dengan dikuasainya kerajaan Kedah, Perak, Johor dan Pahang. Daerah pantai barat dan timur Sumatera dikuasainya hingga ke Pariaman yang merupakan jalur masuk Islam ke Minangkabau.
Untuk memperlemah kekuasaan Portugis, Iskandar Muda membuka kerja sama bersama dengan Belanda dan Inggris bersama dengan mengijinkan kongsi dagang mereka, yakni VOC dan EIC untuk membuka kantor cabangnya di Aceh.
Menyerang Portugis di Malaka dan sempat mengalahkan Portugis di Pulau Bintan pada tahun 1614.
Mendirikan Masjid Baiturrahman di pusat ibukota kerajaan Aceh.
c. Kesultanan Demak
Kesultanan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang berdiri pada tahun 1478. Pendiri kesultanan Demak adalah Raden Patah (1500-1518). Demak sukses jadi kerajaan besar dikarenakan letaknya yang strategis dan punyai hasil pertanian yang melimpah bersama dengan komoditas ekspornya berupa beras. Kemajuan Demak juga tidak sanggup dilepaskan dari runtuhnya Majapahit supaya Demak mendapat bantuan kota-kota pantai utara Jawa yang lepas dari kekuasaan Majapahit. Dalam mengendalikan pemerintahan, Raden Patah didampingi oleh Sunan Kalijaga dan Ki Wanapala. Masjid Agung Demak dibangun oleh Raden Patah, setelah memerintah selama tiga tahun.

Kesultanan Demak mengalami jaman kejayaan di bawah pemerintahan Sultan Trenggono tahun 1521 M. Wilayah kekuasaannya hampir meliputi seluruh Jawa. Pada jaman pemerintahan Sultan Trenggono, Demak berusaha membendung masuknya Portugis ke Jawa. Setelah Sultan Trenggono meninggal pada 1546 M, Joko Tingkir menantu Sultan Trenggono naik tahta dan memindahkan ibu kota Demak ke Pajang (1568 M).

d. Kesultanan Pajang
Kesultanan Pajang adalah lanjutan dari Kesultanan Demak. Kerajaan ini dibangun oleh Pangeran Hadiwijaya (Jaka Tingkir) setelah ia memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Pajang, sedang Demak dijadikan daerah Kadipaten. Pada pas mengalahkan Arya Penangsang, Pangeran Hadiwijaya dibantu Ki Ageng Pemanahan. Sebagai balas jasa, Hadiwijaya kemudian mengangkatnya sebagai adipati di Mataram. Ki Ageng Pemanahan membawa putera yang cakap dalam perihal peperangan dan jadi anak angkat dari Hadiwijaya, yakni Sutawijaya.

Setelah Hadiwijaya meninggal, tahta Pajang dipegang oleh puteranya, Pangeran Benawa. Pada jaman ini, nampak pemberontakan yang dilaksanakan Arya Pangiri putera Sunan Prawoto, yang meminta tahta Pajang. Namun, pemberontakan ini sukses dipadamkan dikarenakan tersedia bantuan dari Sutawijaya. Karena terasa kurang sanggup untuk menjalankan pemerintahan Pajang, Pangeran Benawa kemudian menyerahkan tahta Pajang kepada saudara angkatnya, Sutawijaya. Oleh Sutawijaya pusat pemerintahan Pajang kemudian dipindahkan ke Mataram.

e. Kesultanan Mataram Islam
Kesultanan Mataram Islam berdiri pada tahun 1586. Raja-raja yang memerintah Mataram Islam antara lain Sutawijaya, Mas Jolang, dan Sultan Agung. Sutawijaya jadi Raja Mataram bersama dengan gelar Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama.

Selama pemerintahan Sutawijaya, Mataram selamanya diliputi oleh api peperangan. Beliau wafat pada tahun 1601. Setelah wafatnya Panembahan Senopati, tahta jatuh kepada puteranya yang bernama Mas Jolang. Berturut-turut, Mas Jolang kudu hadapi pemberontakan yang dilancarkan oleh Demak, Ponorogo, Surabaya, dan Gresik. Pada tahun 1613, dalam sebuah perjalanan pulang dari Surabaya setelah menumpas pemberontakan, Mas Jolang meninggal dunia di Desa Krapyak. Oleh dikarenakan itu, beliau dijuluki Panembahan Seda Krapyak. Kemudian, tahta beralih pada putera Mas Jolang yang bernama Raden Mas Rangsang.

Di bawah pemerintahan Raden Mas Rangsang, cita-cita leluhurnya untuk mempersatukan seluruh lokasi Jawa di bawah Mataram sanggup terlaksana. Masa kejayaan Mataram pun tercapai di bawah pemerintahannya. Sebagai raja besar yang sangat disegani, Raden Mas Rangsang bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo Senopati ing Alaga Ngabdurrahman Khalifatullah Pranotogomo.

Dalam jaman pemerintahannya Sultan Agung tidak cuma berambisi untuk memperluas wilayah, tetapi juga berusaha meningkatkan derajat kesejahteraan rakyatnya melalui usaha-usaha selanjutnya ini;
Penduduk Jawa yang tergolong padat dipindahkan ke Karawang dikarenakan daerah ini membawa perladangan dan persawahan yang luas.
Dibentuklah suatu lapisan masyarakat yang berupa feodal atas dasar masyarakat yang agraris, yakni terdiri atas pejabat yang diberi tanah garapan.
Disusunlah buku-buku filsafat, antara lain Sastra Gending, Niti Sastra, dan Astabrata.
Sultan Agung wafat tahun 1645. Setelah itu, Mataram diperintah oleh raja-raja yang lemah. Hingga selanjutnya pada tahun 1755, Mataram dipecah jadi empat kesultanan, yakni Yogyakarta, Surakarta, Paku Alaman, dan Mangkunegaran. Maka, berakhirlah riwayat Kesultanan Mataram.

f. Kesultanan Banten
Pada awalnya, Banten merupakan pelabuhan atau bandar besar yang berada di bawah kekuasaan Pajajaran. Pada 1511 M, Kesultanan Demak sedang memperluas kekuasaannya di Pulau Jawa. Perluasan lokasi kekuasaan merupakan salah satu bisnis perluasan penyebaran agama Islam. Oleh dikarenakan itu, Sultan Trenggono dari Kesultanan Demak pada 1522 M mengutus Fatahillah untuk menguasai Banten bersama dengan obyek sebagai berikut;
Menduduki Pelabuhan Banten
Menyebarkan dan menjaga umat Islam yang berada di lokasi Banten
Mengamankan perdagangan lada dari monopoli Portugis
Menggagalkan dan mengusir Portugis dari Sunda Kelapa
Banten capai kejayaan pada jaman pemerintahan Sultan Ageng Tirtaya (1651-1682). Selama jaman pemerintahannya, Sultan Ageng terlibat pertempuran melawan VOC sebanyak tiga kali supaya menyebabkan repor VOC. Kegigihan Sultan Ageng, justru ditentang oleh putera mahkotanya sendiri yang bernama Sultan Haji. Kesempatan ini dimanfaatkan VOC untuk memakai politik adu domba supaya tidak lama kemudian Sultan Ageng sanggup ditangkap dan diasingkan hingga beliau wafat.

g. Kesultanan Cirebon
Kesultanan Cirebon didirikan oleh Fatahillah atau Falatehan. Ia jadi Sultan pertama Cirebon. Ia juga merupakan salah satu bagian walisongo yang di kenal sebagai Sunan Gunung Jati. Pada jaman ini Islam sanggup berkembang bersama dengan pesat di berbagai daerah Jawa Barat. Setelah Sunan Gunung Jati wafat, ia digantikan cucunya yang dikenal bersama dengan gelar Panembahan Ratu.

Pada jaman ini, Cirebon berada di bawah efek Mataram, tetapi keduanya menjalin pertalian dalam suasana perdamaian. Letak Cirebon yang berada di daerah pesisir antara Jawa Tengah bersama dengan Jawa Barat menyebabkan pelabuhannya ramai dikunjungi para pedagang supaya membantu pertumbuhan di Cirebon.

Setelah Panembahan Ratu meninggal, ia digantikan oleh puteranya yang bergelar Panembahan Girilaya. Pada jaman akhir Panembahan Girilaya (1650-1662) jadi sultan, ia membagi kekuasaan Cirebon jadi dua, yang diperintah oleh puteranya yakni Kesultanan Kasepuhan yang dipimpin Panembahan Sepuh dan Kesultanan Kanoman yang dipimpin oleh Panembahan Anom.

h. Kesultanan Gowa-Tallo (Makassar)
Kerajaan Makassar merupakan paduan dari dua kerajaan, yakni Kesultanan Gowa dan Kerajaan Tallo. Pusat Kesultanan Makassar adalah di Sombaopu, yang merupakan kota pelabuhan transito yang ramai di Sulawesi. Makassar mengalami kemajuan yang pesat dikarenakan beberapa faktor;
Letaknya strategis dikarenakan menghubungkan Malaka dan Maluku
Para pedagang banyak yang hijrah ke Makassar, dikarenakan Malaka jatuh ke tangan Portugis.
Para pedagang muslim sudah singgah ke Makassar sejak abad ke 16. Pada awal abad ke 17 penguasa Makassar memeluk Islam. Raja Gowa, Daeng Manrabia, Mengenakan gelar Sultan Alauddin, sedang Raja Tallo, Karaeng Matoaya, Mengenakan gelar Sultan Abdullah Awalul Islam.

Kerajaan Makassar capai kejayaan pada jaman pemerintahan Sultan Hasanuddin. Ia sangat anti VOC. Hal inilah yang menyebabkan Sultan Hasanuddin. Ia sangat anti VOC. Hal inilah yang menyebabkan VOC inginkan menguasai Makassar. Akhirnya VOC sukses mengalahkan Sultan Hasanuddin setelah bekerjasam bersama dengan Aru Palaka (Raja Bone). Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya 1667.

i. Kesultanan Ternate-Tidore
Kesultanan Ternate dan Tidore adalah dua kesultanan Islam yang berada di Maluku. Kesultanan ini berkembang jadi kesultanan maritim dan agraris (pertanian) yang maju. Tetapi, di antara ke dua kesultanan itu sering berjalan persengketaan memperebutkan daerah kekuasaan di Maluku. Keadaan ini dimanfaatkan oleh bangsa-bangsa asing yang singgah ke Maluku.

Pada 1521 M, Portugis memasuki Maluku dan segera membantu Ternate. Begitu pula bersama dengan Spanyol segera membantu Tidore. akibatnya, terjadilah perang di antara ke dua bangsa asing itu. Persengketaan itu sanggup diselesaikan melalui perjanjian Saragosa. Isinya perjanjian itu, yakni Spanyol kudu meninggalkan Maluku dan menguasai Filipina. Adapun Portugis untuk pas sanggup menguasai Maluku. Penguasaan Portugis di Maluku mendapat perlawanan dari Sultan Baabullah (1570-1583 M). Usaha Sultan Baabullah mengusir Portugis sukses pada 1575 M. Atas desakan bangsa Belanda yang merupakan musuh Portugis, selanjutnya Portugis meninggalkan Maluku. Kesultanan Ternate capai puncak kejayaannya pada jaman Sultan Baabullah. Sedangkan kesultanan Tidore capai puncak kejayaannya pada jaman Sultan Nuku.

j. Kesultanan Banjar
Kesultanan Banjar di Kalimantan merupakan kesultanan Islam yang membawa pertalian erat bersama dengan Kesultanan Demak. Sultan Banjar berjanji jika Kesultanan Demak membantu mereka untuk berperang melawan Nagaradipa (Nagaradaka), ia bersama dengan seluruh rakyatnya bakal masuk Islam.

Demak mencukupi keinginan itu dan berperang melawan Nagaradipa. Akhirnya, Kerajaan Nagaradipa sanggup dikalahkan oleh pasukan Demak. Oleh dikarenakan itu, cocok bersama dengan perjanjian, seluruh rakyat Banjar masuk Islam. Peristiwa ini berjalan pada 1550 M.

Sultan pertama Kesultanan Banjar ialah Raja Samudra yang bergelar Sultan Suryanullah atau Suryansyah. Kesultanan Banjar mengalami kemunduran setelah wafatnya Sultan Adam pada 1875 M, saat Belanda terasa banyak mencampuri urusan pengangkatan Sultan Banjar yang baru.

5. Peninggalan Sejarah Masa Islam di Indonesia
a. Seni Bangunan
1) Masjid
Masjid yang merupakan daerah beribadah atau rumah daerah bersembayang orang-orang Islam. Pada kebanyakan masjid-masjid pada awal penyebaran Islam di Indonesia punyai beberapa ciri tertentu antara lain atap bertingkat dan berupa bujursangkar, tersedia bangunan serambi, di depan atau disamping terkandung kolam berair, punyai menara, dan pada kebanyakan terletak di kota menghadap alun-alun.

Salah satu misal Masjid peninggalan jaman Islam yakni Masjid Demak di Kadilangu, merupakan masjid yang didirikan oleh Walisanga untuk menjunjung berdirinya Kerajaan Demak. Di dalam masjid itu terkandung salah satu tiang utama yang disusun dari sepihan kayu supaya disebut Soko Tatal.

2) Keraton
Keraton dibangun sebagai simbol pusat kekuasaan pemerintahan. Pada umumnya, keraton dibangun mengarah ke utara. Bangunan keraton kebanyakan dikelilingi oleh pagar tembok, parit, atau sungai kecil buatan. Halaman keraton terdiri atas tiga bagian. Bagian paling belakang sangat disakralkan dan tidak boleh ceroboh orang memasukinya. Di depan keraton terkandung lapangan luas yang disebut alun-alun. Di sedang halaman itu, kebanyakan terkandung pohon beringin sebagai simbol raja yang mengayomi rakyatnya. Contoh keraton kesultanan-kesultanan Islam, antara lain Keraton Kasepuhan, dan Keraton Kanoman di Cirebon, Keraton Surosowan di Banten, Keraton Mangkunegaraan, Keraton Raja Gowa, Keraton Demak, Keraton Yogyakarta, dan Keraton Surakarta.

3) Makam
Makam adalah daerah dikebumikannya seseorang setelah meninggal dunia. makan kuno yang bercorak Islam kebanyakan terdiri atas jirat (kijing), nisan, dan cungkup.
Jirat atau kijing adalah bangunan yang terbuat dari batu atau tembok yang berupa persegi panjang bersama dengan arah lintang utara-selatan.
Nisan adalah tonggak pendek yang terbuat dari batu yang ditanam di atas gundukan tanah sebagai isyarat kuburan. Umumnya, dipasang di ujung utara dan selatan jirat.
Cungkup adalah bangunan sama rumah yang berada di atas jirat.
Contoh makam kuno bercorak Islam, yakni makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik, makam Fatimah binti Maimun di Leran Gresik, makam Sultan Malik as-Saleh di Pasai Aceh, makam sultan-sultan Mataram di Imogiri, makam Sunan Giri di Giri, makam sultan-sultan Gowa dan Tallo di Sulawesi Selatan, dan makam Sunan Gunung Jati di Cirebon.

b. Seni Rupa
Bentuk peninggalan sejarah bercorak Islam yang juga dalam seni rupa, yakni Kaligrafi dan pahatan atau ukiran pada kayu atau batu. Kaligrafi adalah seni menulis indah bersama dengan merangkaikan huruf-huruf Arab, baik berupa ayat-ayat suci Al-Quran ataupun kalimat mutiara. Kaligrafi ini hiasan yang biasa kami jumpai dalam sebuah masjid dan batu nisan. Misalnya, kaligrafi yang terkandung pada nisan Ratu Nahrarsiyah di Aceh, kaligrafi yang terkandung pada nisan Sultan Malik as-Saleh di Aceh, dan kaligrafi yang terkandung pada dinding Masjid Kalimayat di Jepara.

c. Seni Sastra
Salah satu bentuk peninggalan sejarah bercorak Islam adalah seni Sastra. Contoh seni sastra, yakni; hikayat, babad, sulud, dan syair.
1) Hikayat
Hikayat adalah karya sastra yang memuat ceritera perihal kehidupan manusia. Pada dasarnya, hikayat mempunyai kandungan nilai untuk memunculkan stimulus hidup manusia, meskpun tersedia beberapa hikayat yang menceritakan perihal kesedihan. Misal; Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Nabi-Nabi, Hikayat Sultan-Sultan Aceh, serta Hikayat Penjelasan Penciptaan Langit dan Bumi.
2) Babad
Babad adalah karya sastra berupa cerita berlatar belakang sejarah. Karya ini kebanyakan berupa cerita semata dari pada deskripsi sejarah yang disertai bukti-bukti dan fakta. Contoh Babad Cirebon, Babad Tanah Jawi, dan Babad Giyanti.
3) Suluk
Suluk adalah kitab-kitab yang memuat persoalan gaib, ramalan perihal hari baik atau buruk, dan makna atau simbol tertentu yang dihadapi manusia. Suluk-suluk itu merupakan bagian dari ajaran tasawuf. Suluk merupakan karya sastra tertua peninggalan kesultanan Islam di Indonesia. Contoh Suluk Wijil, Suluk Malang Sumirang, dan Suluk Sukarsa.
4) Syair
Syair adalah puisi lama yang setiap baitnya terdiri atas empat baris yang berakhir bersama dengan bunyi yang sama. Contohnya Syair Perahu dan Syair Si Burung Pingkai karya Hamzah Fansuri.

d. Seni Pertunjukan
Bentuk peninggalan sejarah bercorak Islam yang juga dalam seni pertunjukan, misalnya; permainan debus di Banten, Minangkabau, dan Aceh, Tari Seudati di Aceh, rebana, dan Kasidahan. contoh teks eksplanasi

e. Upacara dan Tradisi
Di masyarakat pas ini berkembang juga bentuk peninggalan sejarah bercorak Islam yang juga dalam tradisi dan upacara. Misal; selamatan orang meninggal hari ke-1 hingga ke-7, ziarah ke makam, acara grebeg Mulud, sekaten, upacara Isra’ Miraj, upacara Nifsu Syaban, upacara kelahiran, perkawinan, maupun kematian.

baca juga :