Dunia Pers Harus Ikut Berperan Menangkal Hoax

Dunia Pers Harus Ikut Berperan Menangkal Hoax

Dunia Pers Harus Ikut Berperan Menangkal Hoax

Dunia Pers Harus Ikut Berperan Menangkal Hoax
Dunia Pers Harus Ikut Berperan Menangkal Hoax

Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo meminta dunia pers ikut berperan aktif dan ikut menangkal hoax dan ujaran kebencian yang beredar di media sosial ataupun di dunia nyata.

Di tengah maraknya banjir informasi yang memunculkan hoax dan ujaran kebencian, kata Yosep, media arus utama harus bisa menjadi rumah penjernih sebagai tempat orang untuk bisa menemukan berita yang benar sesuai fakta.

“Media harus bisa menjadi bahan rujukan bagi masyarakat untuk mengecek kebenara

n informasi yang mereka dapatkan,” ujar Yosep Adi Prasetyo, di Jakarta, Rabu (13/2).

Untuk itu, lanjut dia, dunia pers tidak boleh ikut terjebak dalam penyebaran informasi berita yang bersumber dari medsos yang belum terverifikasi kebenaran faktanya.

Diakui, saat ini dunia pers atau media arus utama mulai kurang diminati masyarakat sebagai sumber informasi karena beberapa faktor penyebab.

Pertama, banyak pemilik media menjadi ketua ataupun pimpinan partai atau berafiliasi pada partai tertentu sehingga menjadikan media tersebut sebagai boncengan politik.

Kedua, ada pergeseran pembaca, yakni yang membaca bahan-bahan cetakan hanya sisa dari Generasi Baby Boomers dan sebagian Generasi X. Generasi Y dan Generasi Z sudah tidak lagi membaca koran atau majalah, bahkan juga tidak menonton televisi.

“Mereka adalah kelompok milenial yang notabene adalah digital native yang mendapatkan informasi

dari gadget yang ada dalam genggaman, berkomunikasi menggunakan medsos dan menonton hiburan, film dari Youtube, Netflix, dan lain-lain,” kata pria yang akrab disapa Stanley ini.

Faktor penyebab lainnya adalah industri media mengalami kegamangan dan kehilangan sumber-sumber peliputan. Hal ini disebabkan tokoh yang menjadi sumber informnasi berita juga lebih suka membuat vlog. Mereka juga lebih senang swafoto yang tentunya bisa langsung dikomunikasikan kepada masyarakat melalui medsos.

“Para pejabat sekarang ini sudah tidak lagi berbicara dengan para pemimpin redaksi dan wartawan senior. Oleh karena itulah, wartawan kemudian membuat berita dari pernyataan pejabat ataupun tokoh yang telah diunggah di medsos,” ujarnya.

Bahkan yang agak dia sayangkan, saat ini wartawan generasi muda memang lebih memilih c

ara mudah untuk membuat berita, yakni cukup mengambil dari medsos tanpa merasa perlu untuk turun ke lapangan.

“Padahal, turun ke lapangan itu masih sangat penting untuk dapat melihat langsung peristiwa ataupun kejadian secara riil demi keakuratan dari berita tersebut. Ini yang terjadi dan pernah menjadi bahan penelitian Universitas Paramadina bekerja sama dengan Maverick,” katanya.

Untuk itu, pria yang pernah menjadi Wakil Ketua Komnas HAM ini berharap agar dunia pers bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat sebagai sumber berita yang tepercaya seperti sebelum ada medsos.

 

Baca Juga :