Mencintai dikarenakan Allah

Table of Contents

Mencintai dikarenakan Allah

Umar bin Abdul Aziz hidup didalam kemewahan dan kemegahan hidup dengan istrinya yang punya papa seorang khalifah. Setiap hari Umar mengenakan jubah terindah dan pakaian terbaiknya dengan wewangian mahal sampai meninggalkan aroma harum di tiap tiap jalur yang udah ia lalui. Berjam-jam ia menata rambutnya sampai-sampai terlambah shalat berjemaah. Apa pun yang ia mau dengan mudahnya ia dapatkan.

Hal ini terlampau berkebalikan disaat ia terpilih jadi khalifah meneruskan amanah sang mertua. Kehidupannya beralih seratus persen. Kemewahan yang begitu didambakan tiap tiap orang, ia tinggalkan begitu saja. Sungguh tindakan yang terlampau langka dikarenakan umumnya tiap tiap orang melacak jabatan agar sanggup hidup mewah dan bergelimang harta.

Keputusan ini ia sampaikan kepada istri tercintanya, Fatimah binti Abdul Malik. Bagaimanapun juga, kehidupan barunya akan melibatkan kehidupan istrinya yang lama dibuai kemewahan.

Umar berbicara kepadanya, “Wahai Fatimah, persoalan besar udah menimpaku. Aku diberi beban yang paling berat dan aku akan dimintai pertangungjawaban berkenaan manusia yang paling jauh serta yang paling dekat dari umat Muhammad saw.

Tugas ini akan menyita seluruh keberadaanku, sampai tidak tersedia kala bagiku untuk mencukupi seluruh hakmu atas diriku. Tidak tersedia kembali kemauan bagiku kepada wanita, namun aku tidak menginginkan menceraikanmu. Aku tidak menginginkan seorang pun di dunia ini selain dirimu.

Meskipun demikian, aku tidak menginginkan menzalimi dirimu. Aku khawatir kamu tidak sabar atas langkah hidup yang kupilih. Oleh dikarenakan itu, aku akan mengantarkanmu ke tempat tinggal ayahmu.”

Sang istri terpana mendengar penjelasan suaminya yang begitu mendadak. Kemudian ia bertanya untuk meminta penjelasan lebih dari suaminya, “Sebenarnya apa maksudmu?”

Dengan sabar Umar menjelaskan kembali, “Sesungguhnya harta yang kami punya serta yang dimiliki oleh saudara-saudara dan kerabatmu ini berasal dari harta kaum muslimin. Aku bertekad akan mengambilnya dan mengembalikannya kepada mereka. Aku akan memulai dari diriku. Aku tidak akan menyisakan untukku, jika sebidang tanah yang kubeli dari duit hasil jerih payahku. Aku akan hidup dengan harta tersebut. Jika engkau tidak sabar terhadap kesempitan hidup sesudah lapangnya, kau boleh kembali kepada ayahmu.”

Tak habis pikir dengan ketetapan suaminya, Fatimah kembali bertanya, “Apa yang mendorongmu untuk berbuat layaknya itu?”

Umar menjawab, “Wahai Fatimah, sebetulnya aku punya jiwa ambisius dan aku tidak meraih sesuatu, jika menginginkan yang lebih baik darinya. Aku menginginkan jabatan, lantas mendapatkannya. Ketika aku mendapatkannya, muncul keinginan untuk menguasai khalifah dan disaat aku udah mendapatkannya, aku menginginkan yang lebih baik darinya, yaitu surga.”

Sang istri menanggapi keinginan suaminya, “Wahai suamiku, lakukanlah apa saja yang menurutmu baik, aku akan tetap bersamamu. Saya tidak akan menyertaimu didalam kondisi senang, lantas meninggalkanmu didalam kondisi susah. Saya rida dengan apa yang kauridai.”

Setelah mendapat persetujuan dari sang istri, ia pun memulai tugasnya dengan meninggalkan istana megahnya. Seluruh harta yang ia sanggup dari Baitul Mal dikembalikan. Bersama istrinya, ia menduduki gubuk kecil di sebelah kiri masjid. Pakaian, tempat tinggal, makanan, dan minuman terlampau terlampau sederhana, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Kini cuma sebuah permata yang tertinggal sebagai harta hanya satu Fatimah. Permata kesayangannya, pemberian dari papa tercinta. Mengetahui hal tersebut, Umar berbicara dengan lembut kepada istrinya, “Wahai Fatimah, engkau jelas bahwa permata itu diperoleh ayahmu dari harta kaum muslimin dan menghadiahkannya kepadamu. Sesungguhnya aku tidak suka permata itu tersedia di rumahku. Karena itu, engkau boleh memilih: permatamu atau aku?”

Apa jawaban sang istri? Jika ia menentukan permata, seumur hidupnya akan tetap bergelimang harta. Akan tetapi, jika ia menentukan suaminya, kehidupan apa terdapatnya yang jauh dari kekayaan duniawi mesti ia jalani.

Sang istri udah mantap dengan pilihannya. la pun berkata, “Demi Allah, pasti aku lebih memilihmu, wahai suamiku, daripada permata ini. Bahkan, jika aku punya permata yang berlipat-lipat jumlahnya, akan aku serahkan sepenuhnya dikarenakan kau lebih bernilai dari seluruh itu.”

Sang istri pun mengembalikan permata kesayangannya ke Baitul Mal.
Kini, kedua suami istri mulia selanjutnya hidup seadanya. Tidak tersedia pakaian mewah dan indah, melainkan pakaian usang dan penuh tambalan yang melekat terhadap tubuh mereka. Tidak tersedia pula istana, melainkan tempat tinggal kecil dengan dinding yang rapuh.

Suatu disaat seorang wanita Mesir berkunjung ke tempat tinggal mereka. Fatimah menemuinya yang tampak kebingungan di depan pintu rumahnya. Ia pun langsung beri salam wanita asing tersebut, “Wahai hamba Allah, adakah yang sanggup aku bantu?”

Wanita itu berkata, “Aku berkunjung dari Mesir untuk menemui Amirul Mukminin. Orang-orang menunjuk alamat ini, namun di sini aku tidak menemukan istananya.”

Fatimah tersenyum lebar dan langsung menyambut tamu jauhnya, “Kau benar, ini rumahnya, silahkan masuk!”

Alangkah terkejutnya wanita itu jelas yang berbicara di hadapannya adalah istri seorang Amirul Mukminin. Pakaiannya lusuh, tidak berdandan, tanpa gelang dan perhiasan. Siapa yang menyangka bahwa ia adalah istri petinggi wilayah ini.

Wanita itu dengan perasaan heran dan bingung masuk ke didalam rumah. la duduk di atas lantai di temani istri Amirul Mukminin yang terhormat. Namun, sang tamu kembali kaget menyaksikan di didalam tempat tinggal selanjutnya tersedia seorang laki-laki dengan tangan penuh tanah dan memakai pakaian kotor yang tengah melakukan perbaikan dinding rumah.

Disangkanya laki laki itu adalah tukang batu. Wanita itu pun beri salam Fatimah, “Wahai istri Amirul Mukminin. Mengapa kau memasukkan laki laki ke didalam rumahmu di kala suamimu tidak tersedia di rumah?”

Fatimah kembali tersenyum, “Dialah suamiku, Amirul Mukminin yang kaucari.”

Sulit untuk dipercaya disaat sang tamu jelas kehidupan keluarga Amirul Mukminin yang terlampau jauh dari bayangannya. Bukankah petinggi negara diberi layanan dari Baitul Mal? Namun, di hadapannya, tidak tersedia kemewahan, kesombongan, dan jarak antara mereka dan rakyatnya.

Mereka menjauhi kemewahan duniawi agar jiwanya jadi kuat dan terhindar dari fitnah-fitnah dunia. Itulah tempat tinggal tangga penuh keimanan yang dihuni oleh pasangan yang menyinari dunia dan menembus cakrawala.

Siapa yang tujuannya adalah akhirat, Allah akan menjadikan rasa cukup didalam hatinya, menyatukan kembali apa yang terpisah darinya, dan dunia akan tetap berkunjung kepadanya didalam kondisi tunduk. Dan siapa yang menjadikan dunia sebaga; tujuannya, Allah akan menjadikan kefakiran tetap membayang-bayanginya, menengahi yang bersatu dengannya, dan dunia tidak akan berkunjung kepadanya, jika yang kotor baginya. (Al-Hadis)

Sumber : situs bahasa inggris gratis

Baca Juga :