Kolaborasi FS3LP, Teater Gapus dan Sasindo UNAIR Aksi Damai Baca Puisi

Kolaborasi FS3LP, Teater Gapus dan Sasindo UNAIR Aksi Damai Baca Puisi

Kolaborasi FS3LP, Teater Gapus dan Sasindo UNAIR Aksi Damai Baca Puisi

Kolaborasi FS3LP, Teater Gapus dan Sasindo UNAIR Aksi Damai Baca Puisi
Kolaborasi FS3LP, Teater Gapus dan Sasindo UNAIR Aksi Damai Baca Puisi

Berdampingan hari dengan aksi mahasiswa turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi tolak RUU KUHP dan KPK

, Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) bersama Departemen Sastra Indonesia menggelar Etalase Penyair, Kamis (26/9/2019) di Hall Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga.

Kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa FIB ini diisi dengan dialog interaktif buku puisi dan pembacaan puisi dari mahasiswa dan musikalisasi puisi dari Teater Gapus Surabaya. Hadir sebagai pembicara adalah F Aziz Manna selaku pensyair atau penulis puisi dan Bramantyo sebagai dosen Sastra Indonesia UNAIR.

Beberapa mahasiswa yang hadir pun merupakan mahasiswa yang mengikuti demo di depan gedung DPRD

Jatim hari ini. Mereka menyempatkan diri untuk tetap mengikuti kegiatan ini kerena kegiatan ini disetting tidak hanya tentang membaca dan pembacaan sastra tetapi juga untuk menjadi ruang lain untuk berekspresi dan beraspirasi.

Menurut Suryadi Kusniawan, Ketua FS3LP kegiatan ini adalah bentuk lain dari ruang kegelisahan atas fenomena yang sedang terjadi saat ini. “Dalam kegiatan ini kami menyikapi puisi sebagai ruang kegelisahan dalam bentuk lain yang memiliki kekuatan secara estetis. Respon yang terjadi di Indonesia,” ungkap Suryadi.

Dalam beberapa puisi yang dibawakan pada sore ini adalah ‘Candi Ingatan’

, yang memiliki interpretasi dekat dengan fenomena yang terjadi saat ini. Dalam puisi Aziz imaji memang secara gamblang ditujukan pada kabut asap dan kebakaran di Pulau Kalimantan, tetapi bisa menjadi sangat relevan ketika dibacakan.

/dada tiba-tiba meledak/ kota tiba-tiba jadi ladang terbakar/ lonceng lumpang berdentangan/

/selembar pikiran serupa daun kering/ terombang-ambing ditiup angin/ dicumbu debu serupa kabut kalbu/

“Membaca puisi Aziz yang tidak begitu deklamatif, tetapi impresinya hadir dekat dan bisa dirasakan. Dalam puisi, objek bisa menjadi sangat aktual, karena ruang dan waktu dalam puisi berasal dari implementasi yang dalam dan tanpa batasan,” tambah Suryadi.

Saat ditanya perbandingan bentuk aksi baca puisi dengan aksi turun ke jalan, Suryadi mengatakan bahwa kedua aksi tersebut tidak bisa ditakar dari seberapa besar ruang kegelisahan atas fenomena yang terjadi saat ini, karena keduanya memiliki track passion yang berbeda

 

Sumber :

https://www.disdikbud.lampungprov.go.id/projec2014/suku-jawa/