Bakat Kecerdasan

Table of Contents

Bakat Kecerdasan

Seorang kawan mengirimkan cerita ini. Ada berbagai macam binatang bersahabat lalu mereka pergi ke sekolah. Ketika pelajaran renang si kura-kura dengan semangat dia berenang dengan tenang. Dia mencapai garis akhir dan mendapat pujian luar biasa. Tapi si kelinci dia kelejotan, berteriak-teriak dia gagal berenang, demikian terhitung si burung. Dia menjadi kedinginan dan lari ketakutan. Maka si guru menjadi marah dengan si kelinci, “Dasar Kelinci autis! Lompat-lompat terus, tidak berkenan belajar!”

Tak lama sesudah itu grup binatang yang bersahabat ini studi berlari. ”Wah, kelinci menjadi juara, namun si kura-kura dimarahi “Kamu ini si pemalas. Kamu ini lambat, lelet, tidak tersedia era depan!” Maka si kura-kura pun stres. Demikian terhitung disaat berganti pelajaran melompat dari daerah yang tinggi “Wah si burung suka sekali, karena dia melompat bahkan melayang-layang. Sapi dan gajah kegalauan karena badannya gemuk, dia jatuh bakal kesusahan bangun dan berdiri lagi. Maka dia dimarahi dikatakan “si gendut dan si rakus” Maka sapid an gajah pun stres.

Nah, kenapa masing–masing menjadi stres? Padahal sebetulnya mereka tidak tersedia masalah. Yang menjadi masalah adalah kurikulum yang mereka mengikuti yang mengharuskan binatang studi berenang, studi melompat, studi terbang dan studi berlari. Padahal tiap-tiap binatang punyai ciri khas, cara bergerak sendiri-sendiri. Ini hanya iliustrasi, namun kadang kala masalah sama terjadi pada anak-anak kita. Tiap anak studi semua perihal yang sama. Maka tersedia anak yang mendapat label si hiperaktif, si lamban, si bodoh, si nakal dan sebagainya. Padahal belum pasti demikian, karena tiap-tiap anak punyai cara studi sendiri, kecerdasan sendiri. Kecerdasan aspeknya banyak, tiap-tiap anak tidak harus pintar di tiap-tiap aspek.

Ada anak yang punyai kecerdasan kinestetik yang bagus. Dia punyai kepandaian mobilisasi tubuhnya dengan tepat. Dia bisa menjadi olahragawan yang hebat. Dia bisa menjadi juara, namun dalam bidang lain dia terhitung dituntut harus pintar juga. Padahal belum pasti dia pintar secara matematika. Anak yang lain barangkali punyai kecerdasan interpersonal yang bagus. Dia pintar bergaul, namun dia punyai kelemahan dalam matematika. Kalau kami cap anak layaknya ini “anak bodoh”, dia bakal stres dan tertekan. Padahal jikalau kami mengetahui bahwa tiap-tiap anak sebetulnya unik, anak yang punyai kepandaian bergaul,mungkin bisa menjadi marketing yang luar biasa. Mungkin dia bisa menjadi pedagang, dengan relasi yang luas. Soal menghitung bukankah tersedia kalkulator, computer yang dengan sangat praktis bisa menolong si pedagang menghitung-hitung yang sebetulnya terhitung tidak harus serumit yang harus dia pelajari. Seperti kalkulus, integritas, integral dan sebagainya yang mengakibatkan anak pusing tujuh keliling. Karena itu rupanya kurikulum sekolah-sekolah harus lebih diberikan perhatian pada keunikan tiap-tiap anak. Setiap anak sebetulnya cerdas hanya cerdasnya berbeda-beda.

Salah satu fungsi tes analisa sidik jari adalah bisa menjadi referensi bagi orang tua untuk lebih mengetahui “kecerdasan” putra putrinya. Sehingga tidak bakal tersedia label negative yang diberikan ataupun tuntutan yang terlalu berlebih yang mengakibatkan anak menjadi stress. Sehingga si cerdas interpersonal yang lemah di matematika bakal lebih dimengerti dan dikembangkan kecerdasan interpersonalnya. Sedangkan di cerdas kinestetik bisa diberi peluang di bidang olahraga ataupun di bidang tarian. Dengan demikian orang tua bisa mengarahkan anak-anaknya di bidang yang tepat, supaya potensi mereka bisa tergali dengan maksimal.

Baca Juga :