Nadiem Makarim dan “Link and Match”

Nadiem Makarim dan Link and Match

Nadiem Makarim dan “Link and Match”

Nadiem Makarim dan Link and Match
Nadiem Makarim dan Link and Match

Mengatakan satu pos kementerian atau lembaga pemerintahan lebih baik dan strategis dibanding

yang lain tentu saja tidak tepat. Antara satu kementerian dengan kementerian yang lain memiliki peran dan fungsi masing-masing yang sama besar dan bersifat saling melengkapi.

Hanya saja, jika mengacu pada pidato Presiden Joko Widodo pada pelantikannya tempo hari (20/10), rasanya menempatkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi (Kemendikbud Dikti) sebagai ujung tombak pada Kabinet Kerja Jilid II (Kabinet Indonesia Maju) pemerintahan Jokowi-Maruf Amin rasanya tak berlebihan. Dalam pidato pertamanya usai dilantik, Presiden menyampaikan komitmennya menjadikan pembangunan SDM yang unggul sebagai prioritas.

Jika memegang teguh komitmen tersebut, bisa dipastikan Kemendikbud-Dikti

akan menjadi kementerian yang paling sibuk di pemerintahan Jokowi pada periode kedua ini. Pembangunan sumber daya manusia yang unggul adalah domain kerja Kemendikbud–Dikti, tentu saja tanpa bermaksud mengesampingkan peran Kemenko PMK, Kemenristek, dan kementerian yang lain.

Jika pada periode sebelumnya pembantu Jokowi yang mendapat panggung paling banyak adalah Basuki Hadimuljono, Menteri PUPR, seharusnya pada periode ini Nadiem Makarim adalah penguasa panggung. Nadiem adalah striker yang diharapkan mencetak banyak gol dan membawa Indonesia unggul atas lawan-lawannya.

Tapi, berkaca pada pemerintahan Jokowi pada periode pertama, kita harus bersiap

jika kembali dikecewakan untuk kali kedua. Pada 2014 yang lalu, sebenarnya Jokowi juga telah berkomitmen serupa, hanya dengan frasa yang berbeda. Masyarakat Indonesia tentu saja tidak asing dengan jargon fenomenal pemerintahan Jokowi, “Revolusi Mental”. Namun alih-alih membangun dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta merevolusi mentalitas rakyat Indonesia, Jokowi lebih banyak bergulat dengan pembangunan infrastruktur.

Mudah sekali menyebut pencapaian pemerintahan Jokowi dalam pembangunan infrastruktur ketimbang pencapaian pemerintahan dalam bidang pembangunan manusia. Dalam 5 tahun pemerintahannya, ada 980 KM jalan tol, 3.793 KM jalan nasional, 2.778 jalan perbatasan, 15 bandara baru, 65 bendungan, LRT dan MRT, dan masih banyak lagi capaian dalam bidang infrastruktur.

 

Sumber :

https://silviayohana.student.telkomuniversity.ac.id/music-racer/