Risiko yang Timbul Jika Mobil Jarang Dipakai Akibat COVID-19

Sejalan dengan pemberlakukan work from home (WFH) dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dampak pandemi corona COVID-19 menciptakan mobiltas masyarakat berkurang. Akibatnya kendaraan individu jarang dipakai untuk kegiatan ke luar rumah.

Tapi tidak boleh salah, mobil yang tidak digunakan dalam jangka masa-masa lama belum pasti tebebas dari masalah. Justru dapat sebaliknya.

Berdasarkan keterangan dari Garda Oto, mobil yang tidak dipedulikan menganggur sekitar berminggu-minggu dapat memunculkan “penyakit” baru pada komponen-komponen urgen mobil. Sebab telah tidak dibarengi dengan pemeriksaan dan perawatan secara teratur seperti ketika mobil masih tidak jarang dikendarai.

Berikut ialah komponen mobil yang paling berkesempatan rusak dan teknik pencegahannya sekitar masa PSBB masih berlansgung:

1. Aki tekor

Risiko kesatu ialah pada komponen kelistrikan tepatnya pada komponen aki. Hal ini akan dialami saat kesatu kali mengobarkan mobil yang telah lama tak digunakan. Mobil bakal menjadi sulit dikobarkan karena adanya penurunan daya listrik dengan sendirinya.

Penurunan daya listrik ini berbeda-beda kondisinya tergantung pada usia dan kualitas aki, semakin tua usia aki maka bakal semakin gampang kehilangan daya simpan tenaga listrik.

Tipsnya, hidupkan mesin masing-masing hari tanpa butuh menghidupkan sistem kelistrikan yang beda sekitar 10-15 menit. Waktunya dapat lebih atau tidak cukup tergantung kondisi. Sesekali jalankan mobil guna pengisian daya listrik pada aki yang lebih maksimal.

2. Tekanan angin ban berkurang

Kedua, sebab lama tidak terpakai desakan angin pada ban bakal berkurang. Efek lainnya unsur ban yang menapak langsung dengan aspal bakal menjadi rata, membuat format ban menjadi bukan lagi bundar utuh. Akibatnya, bakal terjadi ketidakseimbangan saat mobil kesatu kali dijalankan sesudah sekian lama terpakir.

Selain tersebut penyebab desakan angin pada ban berkurang juga diakibatkan oleh karet penutup yang berubah tekstur atau dapat juga diakibatkan adanya unsur yang tidak rata antara ban dan pelek.

Kiatnya, jalankan mobil sejumlah saat (maju-mundur) atau masuk-keluar garasi secara berkala. Upayakan posisi pelek dan karet penutup ban pun berubah posisi tumpuan. Hal ini bertujuan supaya tekanan angin pada ban bakal terdistribusi secara merata dan ban tidak terlampau lama tertumpu melulu pada satu titik tertentu saja.

3. Bahan bakar mengendap

Lantaran Iklim di Indonesia yang tropis, ini akan menyebabkan pengembunan pada tangki dan drainase bahan bakar andai mesin tidak dihidupkan dalam masa-masa lama. Akibatnya, yang terjadi ialah bahan bakar bakal tercampur dengan air yang menguap sampai-sampai dapat meminimalisir kualitas bahan bakar serta berpotensi memunculkan karat pada tangki atau drainase bahan bakar yang tercipta dari besi.

Adapun bahan bakar di Indonesia khususnya solar bio-diesel, bila tidak dipedulikan terlalu lama bakal terjadi endapan yang bakal menyumbat drainase bahan bakar.

Karena tersebut disarankan, ketika memanaskan mobil, periksa indikator water separator dan filter bahan bakar pada meter cluster. Rajinlah untuk mengecek dan mengubah filter bahan bakar secara rutin supaya bensin yang dikirim guna proses pembakaran bakal tersaring dan bersih dari partikel kotoran dan karat.

4. Piringan cakram rem berkarat

Ketika mobil tidak dipakai dalam durasi yang lumayan lama, ditambah tidak dipedulikan terkena hujan sebab terparkir di lokasi terbuka. Karat dapat timbul pada piringan cakram dampak proses alamiah antara lingkungan dengan benda yang berunsur besi.

Jika terus tidak dipedulikan akan mengakibatkan berkurangnya performa rem dan pun akan memunculkan bunyi ketika mobil kesatu kali digunakan kembali.

Untuk tersebut usahakan mobil tetap dijalankan paling tidak satu kali dalam seminggu, sebab karat pada piringan cakram pada lazimnya akan hilang dengan sendirinya saat mobil telah dijalankan sejauh 3-5 meter, karat bakal hilang sebab adanya gesekan dari kampas rem.

5. Kuman dan debu pada drainase AC

Terakhir dan urgen untuk diketahui. AC mobil yang jarang dipakai tidak lah bakal menjadi lebih awet, diperbanyak AC yang jarang beroperasi bakal mempunyai udara yang tidak bersikulasi, urusan ini dapat mengakibatkan endapan debu dan kuman di semua bagian drainase AC yang dominan pada kualitas udara di dalam kabin mobil saat mobil hendak digunakan kembali.

Karena tersebut disarankan supaya rutin memanaskan mesin mobil sambil mengobarkan AC selama 5-10 menit paling tidak seminggu sekali. Ini bertujuan supaya gas pendingin freon tidak mengendap dan tidak mempedulikan adanya sirkulasi udara pada kabin mobil. Sumber : https://www.bizcommunity.com/Profile/sevaid