Isu keamanan mengintai penyimpanan cloud

Isu keamanan mengintai penyimpanan cloud

Isu keamanan mengintai penyimpanan cloud

Adopsi penyimpanan komputasi awan, atau lazim disebut cloud, di Indonesia menurut Kaspersky tergolong baik berkat perusahaan maupun usaha kecil dan menengah yang mulai migrasi ke cloud, namun, mereka harus waspada terhadap keamanan di cloud.

“Lansekap keamanan sekarang sudah berbeda dibandingkan, misalnya lima tahun yang lalu. Sekarang (keamanan siber) sangat rumit,” kata General Manager Kaspersky untuk Asia Tenggara, Yeo Siang Tiong, saat jumpa pers di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Peneliti temukan tiga kelemahan besar WhatsApp

Laporan Keamanan TI B2B Kaspersky terbaru, dengan sampel 134 perusahaan di Indonesia

, menunjukkan ada 31,3 persen perusahaan dan UKM yang bermigrasi ke cloud untuk menyimpan informasi sensitif para pelanggan, termasuk diantaranya alamat email dan nomor ponsel.

Penyimpanan cloud memang menawarkan banyak kemudahan, antara lain biaya yang lebih efisien dan mampu menghadirkan layanan yang lebih cepat. Cloud juga akan berimbas pada infastruktur telekomunikasi dan informatika perusahaan hingga meningkatkan keandalan layanan yang diberikan.

Meski begitu, Tion mengingatkan perusahaan harus memahami pertahanan

keamanan siber yang diperlukan untuk melindungi infrastuktur cloud mereka.

“Dengan konektivitas yang lebih besar akan muncul risiko dan kerentanan yang lebih besar pula,” kata Tiong.

Kaspersky melihat faktor manusia menjadi celah kerentanan keamanan

dalam infrastruktur cloud. Perusahaan yang menjadi responden Kaspersky mengakui social engineering, rekayasa sosial, merupakan salah satu serangan siber yang mereka alami.

Rekayasa sosial berupa trik yang dipakai peretas untuk mengelabui pikiran manusia sehingga mereka dapat mencuri informasi, misalnya dengan meminta korban mengklik tautan tertentu

 

 

sumber :

https://www.kuliahbahasainggris.com/seva-mobil-bekas/