Berkali-kali melaksanakan haji

Berkali-kali melaksanakan haji

Dewasa ini, jamaah haji dari berbagai negara terus meningkat. Ini adalah sesuatu yang menggembirakan, karena banyak orang yang sadar dan peduli melaksanakan ibadah ini. Akan tetapi di sisi lain, meningkatnya jamaah menimbulkan berbagai permasalahan, terutama masalah tempat-tempat ibadah yang sering dikunjungi dan menuntut pelaksanaan ibadah dalam satu waktu, seperti melontar jumrah atau thawaf dan sai. Setiap tahunnya, sering terjadi korban jiwa disebabkan penuh sesaknya tempat-tempat tersebut.

Fenomena ini mestinya diperhatikan oleh setiap Muslim. Tujuan ibadah haji selain untuk beribadah kepada Allah, juga bertujuan untuk menumbuhkan solidaritas kemanusiaan, menjalin ukhuwah dan persatuan umat. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya, keributan dan berdesak-desakan dalam suatu tempat. Hal ini disebabkan banyak para jamaah haji telah melakukan ibadah ini pada kali kedua atau berkali-kali.

Oleh karena itu, hendaknya orang-orang yang yang melakukan ibadah haji berulang kali memperhatikan hal-hal berikut:

  1. Allah  tidak  akan  menerima  ibadah  sunnah  sebelum  ditunaikan  ibadah

fardhu. Orang yang melakukan ibadah haji dan umrah sunnah padahal dia tidak mau mengeluarkan zakat hartanya yang wajib, maka haji dan umrahnya tertolak.

  1. Allah tidak akan menerima ibadah sunnah yang dapat menyebabkan terjadi perbuatan haram. Menjauhkan perbuatan haram harus didahulukan daripada yang sunnah. Apabila ibadah haji dan umrah sunnah ini menimbulkan gangguan (mafsadah) karena berdesak-desakan maka wajib menghilangkan mafsadah tersebut.
  2. Menolak mafsadat lebih didahulukan daripada menarik maslahat, lebih-lebih mafsadat tersebut bersifat umum sedangkan maslahatnya bersifat khusus (untuk orang tertentu).
  3. Pintu-pintu amal sunnah untuk memperolah kebaikan itu sangat beragam dan luas. Seperti, sedekah, menyantuni yatim piatu, fakir miskin, memberikan beasiswa atau bantuan kepada organisasi-organisasi ke-agamaan, dan lainnya

Baca juga: