Masalah-masalah yang Berkaitan Dengan Ibadah Haji Dan Umrah

Masalah-masalah yang Berkaitan Dengan Ibadah Haji Dan Umrah

  1. Miqat Makani

Miqat makani adalah batas tempat dimana orang yang akan melaksanakan ibadah haji atau umrah mesti niat dan memakai pakaian ihram. Orang yang berhaji atu berumrah tidak boleh melewati batas tempat ini tanpa berihram. Rasulullah telah menjelaskan tempat-tempat ini sebagai berikut:

  1. Dzu al-Khulaifah, atau disebut juga Bir Ali, ada di sebelah Utara Makkah. Jaraknya ke Makkah sekitar 450 km. Ini adalah miqat bagi orang-orang yang datang dari Madinah dan daerah searahnya.
  2. Juhfah atau Rabigh. Juhfah berada di sebelah tenggara Makkah. Jaraknya sekitar 178 km. Sedangkan Rabigh berdekatan dnegan Juhfah. Jaraknya ke Makkah sekitar 204 km. Rabigh ini menjadi miqat bagi orang-orang dari Mesir, Syiria dan orang-orang yang tinggal searah dengannya atau melewatinya.
  3. Qarn al-Manazil. Berada di sebelah Timur Makkah dan searah dengan padang arafah. Jaraknya sekitar 94 km. Miqat ini bagi penduduk Nejd dan daerah yang searah atau melewatinya.
  4. Yalamlam. Berada di sebelah Selatan Makkah. Jaraknya sekitar 54 km. Miqat ini diperuntukkan bagi penduduk Yaman dan daerah yang searah atau melewatinya. Termasuk juga menurut para ulama dari Indonesia.
  5. Dzat ‘Irq. Jaraknya ke Makkah sekitar 94 km. Miqat ini diperuntukkan bagi penduduk Iraq dan daerah yang searah dengannya.
  6. Haji Anak Kecil

Anak kecil tidak terkena hukum wajib haji. Namun jika melaksanakan juga maka hajinya tetap sah, akan tetapi ketika dewasa nanti dia wajib mengulang hajinya. Karena haji di masa kanak-kanak tidak menggugurkan kewajiban di waktu dewasa. Hal ini berdasar hadits berikut: “setiap anak kecil yang berhaji maka dia wajib melaksanakan haji lagi ketika sudah dewasa nanti”. (HR. Thabrani)

  1. Badal Haji

Yang dimaksud badal haji adalah menggantikan proses pelaksanaan ibadah haji orang lain yang memang wajib berhaji tapi tidak dapat melaksanakannya, seperti sakit, sudah sangat tua atau sudah meninggal dunia. Sedangkan pelaksana pengganti haji itu disayaratkan sudah pernah melaksanakan ibadah haji.Orang yang sakit, sedangkan dari segi materi dia mampu melaksanakan haji, maka hajinya dapat diwakilkan kepada orang lain. Dan apabila dia sudah sembuh, maka dia tidak wajib mengulang hajinya.

Sedangkan orang yang telah meninggal dunia, sedang dia memiliki kewajiban haji yang belum ditunaikannya atau pernah bernadzar, maka pihak keluarga mesti melaksanakan haji untuknya. Seolah-olah hal tersebut adalah hutang yang mesti dibayarnya. Hal ini berdasar pada riwayat Ibn Abbas yang berkata, “bahwa seorang wanita datang menghadap Rasulullah dan berkata: Ibuku pernah bernadzar untuk melaksanakan haji, namun belum sempat melaksanakannya dia keburu meninggal, apakah aku boleh menghajikannya? Nabi menjawab: ya, lakukanlah. Bukankah kalau ibumu memiliki hutang kamu wajib membayarnya? Bayarlah hak Allah, karena Allah lebih berhak untuk ditunaikan hak-Nya.”

Sumber: https://ngegas.com/dolmus-driver-apk/