Perkembangan Ekonomi Indonesia Bidang Pariwisata Tahun 2013

Perkembangan Ekonomi Indonesia Bidang Pariwisata Tahun 2013

Perkembangan ekonomi pariwisata pada tahun 2013 sangat pesat dan meningkat. Meningkatnya ekonomi pariwisata di Indonesia memberikan dampak yang positif bagi pemerintah khususnya bagi rakyat Indonesia yang ikut serta merasakan pengaruh Ekonomi di bidang pariwisata. Perkembangan ekonomi pariwisata khususnya di Bali terus mengalami peningkatan, banyaknya tamu asing yang berdatangan ke Bali untuk melihat budaya dan keindahan pulau Bali. Obyek wisata yang ada di Bali seperti di Kuta yang terkenal akan keindahan laut dan pasir putihnya di karangasem yang udaranya masih segar. Pariwisata di Bali dari tahun ke tahun selalu mengalami peningktan yang cukup signifikan. Dengan meningkatknya pariwisata akan mempengaruhi pendapatan ekonomi Negara. Perekonomian Negara Indonesia yang sedang jatuh akan bias diselamatkan dengan menjaga budaya dan tradisi yang akan mendukung perkembangan pariwisata di daerah itu sendiri. Menurut Suwantoro (2004), Upaya pengembangan pariwisata yang dilihat dari kebijaksanaan dalam pengembangan wisata alam, dari segi ekonomi pariwista alam akan dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Memang pariwisata alam membutuhkan investasi yang relatif lebih besar untuk pembangunan sarana dan prasarananya. Untuk itu diperlukan evaluasi yang teliti terhadap kegiatan pariwisata alam tersebut. Banyak pendapat yang menyatakan bahwa pariwisata alam yang berbentuk ekoturisme belum berhasil berperan sebagai alat konservasi alam maupun untuk mengembangkan perekonomian. Salah satu penyebabnya adalah sulitnya mendapatkan dana pengembangan kegiatannya. Pengelolaan kawasan wisata alam banyak menggunakan dana dari pendapatan pariwisata dari pengunjung sebagai mekanisme pengembalian biaya pengelolaan dan pelestarian kegiatan pariwisata alam belum tercapai secara optimal.

Dalam perkembangan ekonomi di Indonesia khususnya di bidang pariwisata tahun 2013 di laksanakan dengan beberapa perencanaan pembangunan yaitu Objek dan daya tarik wisata, Prasarana wisata, Sarana wisata, Infrastruktur, Masyarakat/lingkungan. Yang pertama adalah Objek dan Daya Tarik Wisata. Daya tarik wisata yang juga disebut objek wisata merupakan potensi yang menjadi pendorong kehadiran wisatawan ke suatu daerah tujuan wisata. Dalam kedudukannya yang sangat menentukan itu maka daya tarik wisata harus dirancang dan dibangun/dikelola secara profesional sehingga dapat menarik wisatawan untuk datang untuk datang. Membangun suatu objek wisata harus dirancang sedemikian rupa berdasarkan kriteria tertentu. Umumnya daya tarik suatu objek wisata berdasar pada:Adanya sumber daya yang dapat menimbulkan rasa senang, indah, nyaman dan bersih. Adanya aksesibilitas yang tinggi untuk dapat mengunjunginya. Adanya ciri khusus/spesifikasi yang bersifat langka. Adanya sarana/prasarana penunjang untuk melayani para wisatawan yang hadir. Objek wisata alam mempunyai daya tarik tinggi karena keindahan alam pegunungan, sungai, pantai, pasir, hutan, dan sebagainya. Objek wisata budaya mempunyai daya tarik tinggi karena memiliki nilai khusus dalam bentuk atraksi kesenian upacara-upacara adat, nilai luhur yang terkandung dalam suatu objek buah karya manusia pada masa lampau. Pembangunan suatu objek wisata harus dirancang dengan bersumber pada potensi daya tarik yang memiliki objek tersebut dengan mengacu pada kriteria keberhasilan pengembangan yang meliputi berbagai kelayakan. Yang pertama adalah Kelayakan Finansial Studi kelayakan ini menyangkut perhitungan secara komersial dari pembangunan objek wisata tersebut. Perkiraan untung-rugi sudah harus diperkirakan dari awal. Berapa tenggang waktu yang dibutuhkan untuk kembali modal pun sudah harus diramalkan. Yang kedua adalah Kelayakan Sosial Ekonomi Regional Studi kelayakan ini dilakukan untuk melihat apakah investasi yang ditanamkan untuk membangun suatu objek wisata juga akan memiliki dampak sosial ekonomi secara regional; dapat menciptakan lapangan kerja/berusaha, dapat meningkatkan penerimaan devisa, dapat meningkatkan penerimaan pada sektor yang lain seperti pajak, perindustrian, perdagangan, pertanian dan lain-lain. Dalam kaitannya dengan dengan hal ini pertimbangan tidak semata-mata komersial saja tetapi juga memperhatikan dampaknya secara lebih luas. Sebagai contoh, pembangunan kembali candi Borobudur tidak semata-mata mempertimbangkan soal pengembalian modal pembangunan candi melalui uang retribusi masuk can

Recent Posts