Silika

Table of Contents

Silika

Menurut Annonymous (2007), Silikon (Latin: silicium) adalah merupakan unsur kimia dalam jadual berkala yang mempunyai simbol Si dan nomor atom 14. Silikon adalah sejenis metaloid tetravalen yang kurang reaktif dibandingkan dengan analog kimianya, karbon. Ia merupakan unsur kedua paling berlimpah di dalam kerak Bumi, yaitu mencapai hampir 25.7%. Dalam bentuk aslinya, silikon berwarna kelabu gelap dengan kilauan logam.
Silikon (Si) merupakan salah satu unsur yang terdapat ada kerak bumi secara berlimpah. Di alam silikon tidak ditemukan dalam bentuk elemen bebas, melainkan berikatan dengan oksigen dan elemen lain. Silikon banyak ditemukan dalam bentuk silika (SiO2).
Menurut Effendi (2003), silika bersifat tidak larut dalam air maupun asam dan biasanya berada dalam bentuk koloid. Silika terdapat pada hampir semua batuan dan mudah mengalami pelapukan. Sumber alami silika adalah mineral kuarsa dan feldspar. Sumber antropogenik silika relatif sangat kecil. Pada perairan alami, silikon biasanya terdapat dalam bentuk asam silika. Perairan tawar alami memiliki kadar silika kurang dari 5 mg/liter. Perairan sungai dan danau memiliki kadar silika antara 5-25 mg/liter (Cole, 1988). Pada air tanah dalam, kadar silika dapat mencapai 65 mg/liter. Pada perairan yang melewati batuan vulkanik, kadar silka dapat mencapai 100 mg/l. Pada perairan payau dan laut, kadar silika berkisar 4.000 mg/liter.
Silikon terlarut di daerah perairan pantai umumnya cukup tinggi karena efek “run-off” dari daratan. Pada musim semi, ledakan populasi fitoplankton dengan cepat menyebabkan menurunnya konsentrasi silikon. Regenerasi silikon akan dimulai kembali pada musim panas saat pertumbuhan fitoplankton menjadi lambat dan terus berlanjut hingga mencapai puncaknya pada awal musim dingin. Pada beberapa daerah, ledakan populasi fitoplankton pada musim gugur dapat menyebabkan terhambatnya regenerasi silikon untuk sementara waktu. Konsentrasi silikon terlarut di permukaan laut umumnya rendah, kecuali di daerah yang mengalami up-welling. Pada lapisan yang lebih dalam, ditemukan peningkatan yang tajam dari konsentrasi silikon. Pola distribusi silikon berbeda dari satu samudera ke samudera lainnya dan ditentukan oleh pola sirkulasi air dan oleh suplai silikon terlarut dari Antartik dan dari diatom terlarut yang jatuh dari permukaan. Proses absorbsi oleh organisme juga berpengaruh terhadap pola distribusi silikon.
Silikon termasuk salah satu unsur yang esensial bagi makhluk hidup. Beberapa alge, terutama diatom (Bacillariophyta), membutuhkan silica untuk membentuk frustule (dinding sel). Biota perairan tawar : misalnya sponge, menggunakan silica untuk membentuk spikul. Keberadaan silika pada perairan tidak menimbulkan masalah karena tidak bersifat toksik bagi makhluk hidup. Akan tetapi, pada perairan diperuntukkan bagi keperluan industri, keberadaan silika dapat menimbulkan masalah pada pipa karena dapat membentuk deposit silika (Effendi, 2003).

9.    Bikarbonat

Saat ini konsentrasi Karbondioksida (CO2) di atmosfer sudah hampir mencapai 380 ppm, 80 ppm diatas nilai maksimum konsentrasi di atmosfer pada 740.000 tahun sebelumnya. Sepanjang abad ke 20 hal ini telah berdampak pada naiknya suhu global di laut dengan rata-rata 0,74ºC, kadar pH laut menjadi jauh lebih asam dan hal ini juga menyebabkan konsentrasi ion carbonat dilaut menjadi 210 µmol kg-1, angka ini jauh lebih rendah dari 420.000 tahun yang lalu.
Dampak yang terjadi akibat adanya pengasaman dilaut akibat pH menjadi lebih rendah adalah berkaitan dengan proses terserapnya CO2 kedalam laut yang juga akan berpengaruh terhadap proses pembentukan kapur pada karang, seperti ditunjukan pada gambar dibawah :
Hampir 25% sumber CO2 selama ini berasal dari aktivitas manusia seperti industri dan transportasi yang hampir sebagian besar telah terserap di lautan. CO2 yang telah terserap tersebut bergabung dengan air laut sehingga menghasilkan senyawa asam karbonat (HCO3) dan ion Hidrogen (H) yang selanjutnya juga akan berikatan dengan ion karbonat dilaut (CO32-) sehingga menghasilkan asam karbonat juga, oleh karena itu semakin tinggi konsentrasi CO2 maka semakin tinggi juga konsentrasi asam karbonat dilaut yang akan menyebabkan laut menjadi lebih asam (Ascidification) dan juga dapat mengurangi ion karbonat dilaut yang seharusnya digunakan dalam proses pengkapuran dilaut (Calcification) seperti pada karang.
Sumber :https://lakonlokal.id/medsos-sudah-seperti-dunia-nyata-harus-ada-aturan/