Tempat Tumbuh dan Penyebaran Ketapang

Tempat Tumbuh dan Penyebaran Ketapang

Tempat Tumbuh dan Penyebaran Ketapang

Tempat Tumbuh dan Penyebaran Ketapang
Ketapang (Terminalia catappa L.) merupakan tumbuhan yang hidup di dataran rendah dan juga dapat hidup di dataran tingi. Tumbuhan ini biasanya tersebar dan dapat ditemukan tumbuh di daratan dengan ketinggian 5 – 500 m dpl (Uhaedi sutisna, dkk., 2004). Terminalia catappa L. banyak hidup di daerah tropis. Tumbuhan ini awalnya berasal dari daerah India dan kemudian menyebar di Asia Tenggara. Saat ini, tumbuhan tersebut dapat ditemui di pinggir-pinggir jalan sebagai pohon hias yang digunakan untuk peneduh (Nopitasari, 2004). Nama pohon ketapang berbeda disetiap daerah. Beberapa nama daerah ketapang dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Nama-nama Pohon Ketapang
Daerah Nama Lokal Nama Daerah Nama Latin
Batak Ketapang Hatapang Terminalia catappa L.
Bugis Atapang
Maluku Sarisa, sirisa, Sirisal dan Sarisalo
Maluku Utara Tiliso, Tiliho dan Ngusu
Minangkabau Katapieng
Nias Katafa
Papua Kalis dan Kris
Rote Lisa
Simeulue Lahapang
Sulawesi Utara Talisei, Tarisei dan Salrise
Timor Ketapas

 

5. Teknik Budidaya Ketapang

Budidaya pohon ketapang (Terminalia catappa L.) meliputi pembibitan, penanaman, dan perawatan (pemeliharaan). Pembibitan pohon ketapang dapat dilakukan dengan memanfaatkan biji yang diambil dari buah atau dengan melakukan metode pencangkokan. Penanaman dilakukan dengan memindahkan benih yang telah siap ke tempat penanaman. Tempat tanam yang bagus untuk tumbuhana ini adalah  di tempat terbuka dan mendapat sinar matahari secara penuh. Setelah itu, perawatan dilakukan dengan melakukan penyiraman pada tumbuhan dan menambah kompos organik untuk merangsang pertumbuhan cabang dan daun.

6. Pertumbuhan Tanaman Ketapang
Ketapang (Terminalia catappa L.) termasuk salah satu tumbuhan yang bisa hidup pada tanah yang nutrisinya kurang mencukupi. Dalam pertumbuhannya telah dilakukan penelitian di Taman Wisata Aalam Pantai Panjang dan Pulau Baai tepatnya di Provinsi Bengkulu. Penelitian yang dilakukan diambil dari tegakan ketapang yang tumbuh secara alami dengan pengambilan data kurang lebih 4 bulan lamanya. Pengambilan data ini dimulai pada bulan Oktober 2016 dengan plot 20 m x 20 m dengan luas 1,8 ha.
Pengamatan pertumbuhan yang dilakukan dimulai dari anakan, tiang, pancang, dan pohon. Selain itu, dilakukan pengukuran jarak terekat antara individu dari setiap strata ketapang. Hasil yang didapatkan menunjukan bahwa setiap indukan yang terdapat di dalam plot akan menghasilkan jumlah individu dan strata ketapang yang ada sehingga bertambah banyak. Hal ini dipengaruhi oleh bakal buah yang jatuh yang menjadi anakan, kemudian menjadi pancang, tiang, dan pohon. Apabila tidak ada faktor pengganggu, pertumbuhan buah ketapang tersebut menjadi populasi alami dan regenarasi dari induknya. Pada penelitian yang dilakukan didapatkan jumlah individu per-area mulai dari strata pohon adalah 10 pohon dengan rata-rata 1, untuk strata tiang memiliki jumlah 30 tiang dengan rata-rata 1,88, sedangkan strata tingkat pancang adalah 82 pancang dengan rata-rata 3,04 dan tingkat anakan memiliki jumlah 1075 dengan rata-rata 25,60 per-area. Berdasarkan perhitungan dari hasil analisis dengan metode pohon terdekat mengguanak rumus Clarks and Evan’s Aggregration Index (R), diperoleh bahwa tingkat pertumbuhan setiap strata tegakan ketapang memiliki kerapatan dengan nilai distribusi tegakan R < 1. Strata anakan diperoleh nilai R adalah 0,202, untuk strata pancang menunjukan nilai R sebesar 0,619, sedangkan strata tiang menunjukan nilai R sebesar 0,748 yang artinya bahawa sebaran ketapang di Taman Wisata Alam Pantai Panjang dan Pulau Baai cenderung berkelompok (Bimantara dkk, 2017).