makalah aliran mutazilah

MU’ TAZILAH

PENGERTIAN MU’TAZILAH

Nama Mu’tazilah berasal dari kata I’tazala yang berarti berpisah atau memisahkan diri, yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri, pemberian nama Mu’tazilah dihubungkan dengan peristiwa yang terjadi ketika Wasil bin Atha’ yang tidak sependapat dan memisahkan diri dari gurunya, Hasan Al-Bashri.[1] Dalam perkembangan selanjutnya, nama ini kemudian disetujui leh pengikut Mu’tazilah dan digunakan sebagai nama dari aliran teologi mereka.
Kenapa Hasan al-Bashri mengatakan “I’tazala anna washil” bukan dengan “In’azala anna washil” ini dikarenakan konotasi yang kedua menunjukkan perpisahan secara menyeluruh, sedangkan Washil terpisah hanya dari pengajian gurunya, sedangkan mereka tetap menjalin silaturrahmi hingga gurunya wafat.
Aliran Mu’tazilah menyebutu dirinya sendiri sebagai “Ahlul Adli wat Tauhid” (golongan keadilan dan ketauhidan), sebutan ini diambil dari dua prinsip dari lima prinsip yang menjadi dasar semua ajaran dan kepercayaan aliran Mu’tazilah. Dua prinsip tersebut ialah Keadilan Tuhan dan Keesaan-Nya.[2]

2.2 SEBAB MUNCULNYA ALIRAN MU’TAZILAH
Aliran Mu’tazilah pertama kali muncul di kora Bashrah (Irak) pada abad ke-2 Hijriyah, tahun 105-110 H. Tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan dan Khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Pelopornya ialah seorang penduduK Bashrah mantan murid Hasan al-Bashri yang bernama Wasil bin Atha’ al-Makhzumi al-Ghozzal.
Terjadi perbedaan pendapat antara Hasan al-Bashri dengan Wasil bin Atha’ mengenai orang yang berbuat dosa besar (Murtakib al-Kabair). Mengenai pelaku dosa besar Khawarij menyatakan kafir, sedangkan Murji’ah menyatakan mukmin. Ketika al-Hasan sedang berpikir, tiba-tiba Wasil tidak setuju dengan kedua pendapat tersebut. Menurutnya, pelaku dosa besar bukan mukmin dan bukan pula kafir, tetapi ia berada dinatara posisi keduanya (al manzilah baina al manzilataini). Kemudian ia berdiri dan meninggalkan Hasan al-Bashri karena tidak setuju dengan pendapat gurunya dan membentuk pengajian baru. Sedangkan Imam Abu Zahrah berpendapat terdapat tiga sebab lahirnya aliran Mu’tazilah[3], yaitu:
a) Golongan Mu’tazilah mulai timbul sebagai satu kelompok di kalangan pengikut Ali, mereka mengasingkan diri dari masalah-masalah politik dan beralih pada masalah aqidah ketika Hasan turun dari jabatan khalifah untuk digantikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan.
b) Adanya perbedaan pendapat antara Wasil bin Atha’ sebagai pendiri aliran Mu’tazilah dengan Hasan al-Bashri, gurunya. Wasil bin Atha’ kemudian meninggalkan Hasan al-Bashri, meghindari kajian-kajiannya dan membentuk forum kajian baru di masjid yang sama.
c) Menurut pendapat Ahmad Amin dalam bukunya Fajr Islam yang ditemukan dari catatan al-Maqrizi, bahwa diantara sekte Yahudi yang berkembang pada waktu itu dan sebelumnya, ada satu sekte yang bernama Frosyen yang berarti Mu’tazilah (mengasingkan diri), diantara mereka ada yang mengatakan bahwa sekte tersebut membicarakan masalah al-Qadr, dan berpendapat bahwa tidak semua perbuatan manusia diciptakan manusia sendiri. Jadi bisa dikatakan Mu’tazilah digunakan untuk memberi nama umat Islam yang sedang mengasingkan diri.


Sumber: https://robinschone.com/