siapa aktor sekaligus penggerak sejarah

Kekuatan-Kekuatan Sejarah

Menurut Carl G. Gustavson dalam A Preface of History mengidentififikasikan enam kekuatan sejarah, yaitu ekonomi, agama, institusi ( terutama politik ), teknologi, ideologi, dan militer. Selain itu Kuntowijoyo menambahkah 7 lagi kekuatan sejarah yaitu individu,seks,umur,golongan,etnisitas dan ras,mitos, dan budaya

1. Ekonomi Sebagai kekuatan sejarah

Dari sejarah dunia kita dapat belajar bahwa terciptanya jalan sutra dari Tiongkok ke Eropa , eksplorasi eropa ke dunia timur, kedatangan orang-orang Eropa di Amerika Serikat bagian selatan, perdagangan budak, dan kedatangan para pengejar “ american dream” adalah karena alasan ekonomi. (Kuntowijoyo, 2013, hal. 100-101)
2. Agama Sebagai kekuatan Sejarah
Gerakan-gerakan yang terekat di Aceh pada awal abat ke 17, di bawah Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani serta pemberantasan di bawah Nurddin Ar-raniri adalah semata-mata karena alasan agama, karena dua orang yang pertama dianggap sesat. Perjalanan Burhanuddin dari ulakan di sumatra barat untuk bekajar agama pada Abdurrauf di aceh pada abad ke 17, dan penyebaran agama islam di sumatra barta tidak lepas dari motif keagamaan. Demikian juga mata rantai gerakan tarekat di indonesia sampai sekarang. Sebelun jadi gerakan sosial, kultural, dan polotik, penyebaran agama islam di jawa pada mulanya adalah gerakan keagamaan. (Kuntowijoyo, 2013, hal. 101-102)
3. Institusi Sebagai kekuatan Sejarah
Dalam sejarah indonesia, institusi[3], tertutama negara juga merupakan kekuatan yang menggerakkan sejarah. Institusa politik sangat efektif untuk menguasai perekonomian. Yang menulis sejarah politik mungkin puas dengan melihat institusi politik. Akan tetapi bagi penulis sejarah sosial atau sejarah lainya dapat melihat kekuatan sejarah dibelakang institusi. Dalam zaman patrimonial, karena raja dan negara tak dapat dipisahkan,cukuplah orang melihat raja sebagai sebuah intitusi.
Dapat dibayangkan ,kalau di permukaan peristiwa sehari-hari di balik itu institusi berupa badan-badan ,partai-partai, dan pers dan dibalik itu ada kekuatan sosial dan kekuatan sejarah lainya. (Kuntowijoyo, 2013, hal. 102-103)
4. Teknologi Sebagai Kekuatan Sejarah
Dahulu banyak petani yang membajak sawah mengunakan sapi atau kerbau, sekarang fenomena seperti itu jarang terjadi karena mayoritas petani mengunakan traktor. Proses jual beli dulu selalu di pasar tapi sekarang bisa online.
Dengan diam-diam teknologi telah mengubah kehidupan, tetapi masih luput dari perhatian sejarawan, sebabnya sejarawan masih sibuk mengurus sejarah yang besar-besar, yang atas-atas, dan yang dipermukaan, dan melupakan yang kecil-kecil, yang di bawah, dan kekuatan-kekuatan yang tak tampak seolah-olah itu bukan sejarah. (Kuntowijoyo, 2013, hal. 104)
5. Ideologi Sebagai Kekuatan Sejarah
Pada awal abad ke-20, pemikiran tentang kemajuan menjadi penggerak utama untuk meninggalkan pandangan tradisional. Gerakan nasionalisme merupakan ideologi[4] yang melahirkan banyak lembaga politik. Sebagai gerakan yang dipengaruhi oleh nasionalisme, juga mempunyai pengaruh dalam kesusastraan. Pancasila yang merupakan common denominator bagi seluruh bangsa indonesia adalah ideologi yang telah menjadi persetujuan bersama juga merupakan kekuatan sejarah. Telah dibuktikan sepanjang sejarah indonesia bahwa ia merupakan idielogi yang efektif. (Kuntowijoyo, 2013, hal. 104-105)


Sumber: https://www.dosenpendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/